TAUSIYAH

Tawsul adalah sebuah aktivitas untuk mengambil sarana atau wasilah agar doa atau ibadah kita dapat diterima Allah SWT. Tawasul juga dapat diartikan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, beribadah kepada-Nya, mengikuti petunjuk Rasul-Nya dan mengamalkan seluruh amalan yang dicintai dan diridhai-Nya. Lebih jelasnya adalah kita melakukan suatu ibadah dengan maksud mendapatkan keridhaan Allah dan surga-Nya.

Di dalam mayoritas masyarakat kita masih banyak yang menggunakan tawasul dalam kehidupannya. Terutama bagi yang menganut mahdzab Imam Syafi’i.

Tawassul menurut bahasa, yakni Al-wasilah berarti segala hal yang dapat menyampaikan dan mendekatkan kepada sesuatu. Sedangkan menurut istilah yaitu segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah SWT yaitu berupa amal kebaikan atau ketaatan yang disyariatkan.
Untuk mengetahui secara lebih rinci, berikut ini kami telah rangkum jenis dari tawasul serta pengertiannya, yang dilansir dari brilio.

Jenis Tawasul
1. Tawasul bi asmaillah
Tawasul bi asmaillah merupakan tawasul dengan menyebut nama dan sifat-sifat Allah. Tawasul ini merupakan tawasul yang memiliki tingkatan paling tinggi.
2. Tawasul bi a’mali shalihah
Tawasul jenis ini dilakukan dengan amal-amal shalih si pembaca tawasul. Di dalam sebuah kitab “shahih muslim,” terdapat sebuah riwayat yang mengisahkan mengenai tiga orang yang terperangkap di dalam suatu gua.
Kemudian, masing-masing dari ketiga orang tersebut bertawasul dengan menyebutkan amal sholih yang pernah mereka kerjakan. Orang yang pertama, bertawasul dengan amal sholihnya berupa memelihara hak buruh. Orang yang kedua, bertawasul dengan amal sholih berupa bakti terhadap orang tuanya. Sedangkan orang yang ketiga, bertawasul dengan amal sholih berupa rasa takutnya kepada Allah SWT, sehingga membatalkan perbuatan keji yang hendak ia kerjakan.
3. Tawasul Bis-Sholihin
Tawasul bis-sholihin adalah bentuk tawasul yang dilakukan dengan orang-orang shalih.

Dasar Hukum Bertawasul
Tawasul adalah upaya atau wasilah agar doa kita dapat diterima oleh Allah SWT. Melakukan tawasul sendiri juga ada hukumnya.
Berikut ini beberapa dasar hukum bertawasul dalam Alquran:

1. Surat Al Maidah Ayat 35

‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Yaa ayyuhallaziina aamanuttaqullaaha wabtaguu ilaihil-wasiilata wa jaahidu fii sabiilihii la’allakum tuflihun

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.

Dari ayat tersebut, ulama memutuskan bahwa tawasul adalah sesuatu yang disyariatkan oleh Islam. Ayat ini dengan jelas meminta kita untuk membuat anak tangga yang menghubungkan seseorang dan Allah. Ulama dari pelbagai madzhab sepakat bahwa tawasul yang dimaksud adalah amal saleh sebagai jalan yang menyertai seseorang dalam doanya. Amal saleh dapat mendekatkan seseorang kepada-Nya. Amal saleh ini yang dijadikan tawasul agar hajat-hajat orang tersebut dalam doanya terkabul.

2. Surat AL-A’raaf ayat 180

‎وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ

Wa lillaahil-asmaa’ul-husnaa fad’uhu bihaa wa zarullaziina yul-hiduna fii asmaa’ih, sayujzauna maa kaanu ya’malun
Artinya:
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

Bacaan Tawasul Secara Singkat
Tawasul adalah suatu upaya atau wasilah agar doa kita dapat diterima oleh Allah SWT. Terdapat doa atau bacaan tawasul yang secara umum yang biasa digunakan oleh orang-orang dalam melakukan tawasul. Bacaan atau doa dalam bertawasul adalah sebagai berikut :
Astaghfirullahal’adziim (3 x)
Asy-hadu allaa-ilaaha illallah wa Asy-hadu anna Muhammadarrosulullah.
’Ala hadzihin niyati wa’ala kulli niyatin sholihah, Ilaa hadrotin nabiyil-Musthofa Muhammadin SAW wa ‘alaa aalihi wa azwajihi wadzurriyyatihi wa ahli baitihil-kirom ajma-‘iin, Syai-u lillahi lahumul-faatihah: (Baca surat al-Fatihah)
Tsumma Ila hadroti jami-‘i ash-habi rosulillahi SAW Khusushon sayyidina Abu Bakar Shidiq wa ‘Umarobnil-Khothob, wa ‘Utsmanabni ‘Affan, wa ‘Ali bin Abi Tholib wa ‘ala baqiyati min shohabatihi ajma’iin, wa ila jami’il-anbiya-i, wal mursalin, was Syuhadaa-i, was-Sholihin, wal-‘ulamaa-il-‘aamilin, wal-Malaa-ikatil-Muqorrobin, wal-Karubiyyin, war-Ruhaniyyin, wal-Karomal-Kaatibin wa li sayyidina Malaa-ikati: Jibril, Mika-il, Isrofil, ‘Izro-il, wa hamalatil-‘arsyi ‘alaihimussalam ajma’iin. Al-Faatihah (Baca surat al-Fatihah).

Tsumma Ila hadroti jami’i Awliya-illahi mingkulli waliyyin wa waliyatin, mimmasyaariqil-ardhi ila maghoribiha, fi barriha wa bahriha wa jami’i Awliya-i tis’ah Qoddasallohu sirrohum, wa Khushushon ila Hadroti Sulthon Awliya-i, Sayidina Syekh ‘Abdul-Qodir Al-Jailani, Shohibil-Karromah wal-Ijazah, Qoddasa llohu sirrohu, Tsumma Ila Arwahi jami’i Aba-ina, wa ummahatina, wa jaddina, wa jaddatina, wa kholina wa kholatina, wa ‘ammina wa ‘ammatina, wa jami’i ustadzina wa asatidzatina, wa masyayikhina wa masyayikhi masyayikhina, wa lijami’i jama’atina, wa zaujina wa zaujatina wa auladina wa banatina wa dzurriyatina wa ikhwanina minal-muslimina wal-muslimat wal-mukminina wal-mukminat, wa liman hadhoro fi hadzal-majlisi minal-mukminin, Rohmatullahi ta’ala ‘alaina wa ‘alaihim ajma’in Syai-ul lillahi lana wa lahum ajma’in Al-faatihah: (Baca surat al-Fatihah)

Teologi Tanah
M.Ishom el-Saha

“Kita semua tuan tanah”, adalah adagium pertanahan yang dulu lekat dalam pikiran masyarakat Nusantara, namun berangsur-angsur lekang oleh jaman.

Adalah Van Vollenhoven yang berhasil memelintir adagium pertanahan Nusantara itu menjadi hak pertuanan tanah (beschikkingsrecht). Karena ada hak untuk beschikken (menguasai mutlak) atas tanah, Van Vollenhoven telah menyalahtafsirkan hak kuasa perorangan untuk memindah-tangankan kepemilikan tanah.

Pertuanan tanah sebetulnya berlangsung di tengan-tengah masyarakat sebagi bentuk pengolahan tanah untuk kepentingan semua anggota masyarakat. Kenapa begitu? Nenek moyang kita dahulu tidak mengenal milik pribadi. Buktinya tidak ada kosa kata bahasa lokal di Nusantara yang punya pengertian semacam itu, melainkan hasil serapan dari bahasa asing: “Milik, duwe” misalnya adalah kosa kata yang diadopsi dari bahasa Arab.

Kedudukan perorangan sebagai tuan tanah hakekatnya adalah hak pakai sementara. Adapun yang menjadi tuan tanah sesungguhnya –meminjam ungkapan orang Batak- adalah “anggota marga yang meraja di situ” atau tiap-tiap anggota masyarakat secara kolektif.

Kesadaran mengenai adanya hubungan masyarakat dengan tanah secara kolektif dibuktikan adanya selamatan atau sedekah bumi oleh masyarakat adat. Sedangkan keyakinan adanya pertalian hidup antara kelompok masyarakat dengan tanah tampak dari upacara bersih desa sesudah musuh panen.

Pemahaman ini dapat dimaklumi karena tanah adalah jati diri bangsa yang sepenuhnya dimiliki. Bagi masyarakat Nusantara, tanah adalah symbol kehormatan yang harus dijaga dan dipertahankan. Tanah juga dipandang sebagai sumber kehidupan yang tidak boleh dimiliki, tetapi bisa dimanfaatkan untuk kehidupan. Tanah adalah adalah sumber inspirasi, menjadi asal mula manusia, tempat hidup, berpijak dan kembali setelah manusia meninggalka dunia.

Secara filosofis dan antropologis masyarakat Nusantara, tanah memiliki peran yang penting dan berharga dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya tanah tidak layak diperdagangkan, dijadikan komoditi dan dieksploitasi.

Bagi orang Sunda, pandangan mengenai sakralitas tanah ini telihat dalam konsep “kabuyutan” (tanah yang disakralkan). Tanah kabuyutan ini harus dijaga jangan sampai direbut dan diduduki oleh orang asing. Siapa saja yang dapat menduduki tanah yang disakralkan (Galunggung), akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, bisa mewariskan kekayaan sampai turun temurun. Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu.

Masyarakat yang tidak dapat mempertahankan kabuyutan/tanah airnya maka derajadnya lebih hina dari kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah (Amanat Galunggung, Hal. 3)

Tanah bagi masyarakat Jawa juga memiliki nilai magis dan teologis. Dalam ajaran teologis yang dipercayai masyarakat Jawa, manusia berasal dari tanah dan harus kembali menjadi tanah. Manusia berpijak di bumi yang sama serta sama-sama diciptakan dari tanah, karena itu perjuangan untuk membantu sesama yang kekurangan merupakan “pemuncak sangkan paraning dumadi”.

Ajaran Asta Brata yang berisi delapan laku kepemimpinan dalam Ramayana antara lain menyebutkan: bahwa pemimpin harus memiliki prinsip “laku hambeging kisma”. Kisma berarti tanah, yang bersifat tak pernah membeda-bedakan siapapun yang menginjak. Pada tanahlah semua makhluk hidup menggantungkan hidup.

Jadi, pemimpin harus mampu mengayomi siapa pun dan memperjuangkan kehidupan rakyat. Bagi orang Jawa tanah juga dianggap sebagai Ibu (Ibu Petiwi) yang memberi kehidupan abagi manusia dan menjadi symbol kehormatan. Oleh karenanya tanah harus dijaga dengan segala pengorbanan sebagai tercermin dalam falsafah jawa: “sak dumuk bathuk sak nyari bumi dibelani pati”.

Di kalangan masyarakat Melayu, masyarakat mempunyai kewajiban untuk melindungi dan memelihara lingkungan tanah dan segala bentuk isinya dari ancaman luar. Hal ini sejalan dengan petatah orang Melayu: ”apabila rusak alam lingkungan di situlah punca segala kemalangan musibah datang berganti-gantian celaka melanda tak berkesudahan. Apabila rusak alam lingkungan hidup sengsara binasalah badan cacat dan cela jadi langganan hidup dan mati jadi sesalan. Apabila alam porak poranda di situlah timbul silap sengketa aib datang malu menimpa anak cucu hidup merana”.

Sebagai imbalan dalam menjaga tanah, hukum adat Melayu menyebutkan masyarakat mempunyai hak bersama dalam menguasai atau memanfaatkan suatu lingkungan tanah untuk kehidupannya dan kesejahteraan masyarakatnya secara umum. Dalam hal ini, orang luar tidak mendapat hak tersebut melainkan telah mendapat izin dari ninik mamak.

Ketentuan adat tentang hutan dan tanah adat juga menyebutkan: (1) hutan dan tanah adat tidak boleh diperjualbelikan dengan cara apapun sehingga pemilikan haknya menjadi berpindah tangan; (2) hutan dan tanah adat tidak boleh dibagi-bagikan menjadi milik pribadi/ perseorangan; (3) walaupun seseorang itu dapat memanfaatkan tanah secara perseorangan ia harus mengikuti ketentuan atau kewajiban-kewajiban tertentu seperti memberikan sebagian hasilnya kepada ketua suku.

Kapasitas ketua suku, ketua adat, palungguh, dan sebagainya bukanlah tuan tanah dalam arti sesungguhnya. Ia hanyalah wakil Tuhan di muka bumi yang bertanggungjawab mengelola tanah untuk kepentingan bersama dan keturunan penerusnya yang akan datang.

Syadad b. Aus Penyemat Mahkota Istighfar
M. Ishom el Saha

Syadad b. Aus merupakan satu-satunya sahabat Nabi yang memperoleh ajaran langsung dari Rasulullah berupa amalan sayyidul istighfar, atau untuk lebih mudah diingat kita sebut saja sebagai mahkota istighfar (sayyidul istighfar). Sekalipun seorang diri meriwayatkan hadits sayyidul istighfar, Imam Bukhari dan Imam Muslim mencantumkannya sebagai hadits shahih dalam kitab mereka.

Nama lengkapnya Syadad b. Ausbin b. Tsabit Anshari al-Najjari al-Madani. Beliau dikarunia umur panjang, hidup selama 96 tahun. Sewaktu tinggal di Madinah beliau hidup serba pas pasan. Suatu saat Rasulullah Saw menghampiri sahabatnya itu dan bertanya: “Apa yang sedang kamu rasakan sekarang?” Syadad menjawab: “seisi bumi sekarang menghimpitku, wahai Rasul!”

Rasulullah lalu berkata: “Wahai sahabatku, kamu perlu tahu sebentar lagi Baitul Maqdis (Palestina) akan ditaklukkan. Pindahlah ke sana! Ajak anak dan keluargamu tinggal di sana!” Padahal pada waktu itu, Palestina belun dalam kekuasaan Islam, namun Rasulullah sudah meramalkannya.

Terbukti pada masa Umar b. Khattab, Palestona berhasil ditaklukkan umat Islam. Di antaranya berkat jasa Syadad b. Aus yang pada masa kepemimpinan Umar menjabat gubernur Humsh dan aktif membantu penaklukan Palestina.

Kiprah politik Syadad b. Aus berakhir bersama dengan berakhirnya lekuasaan Umar. Sesudah itu beliau memilih menjalani hidup sebagai rakyat biasa, hidup sederhana dan zuhud dengan merantau dan menetap di Palestina. Di kota ini beliau memilih “mandita” layaknya para sufi yang di masa hidupnya tidak terlalu dikenal luas.

Umat Islam hanya mengenal bahwa tidak ada seorang pun yang menetap di kawasan Baitul Maqdis di jaman itu yang lebih alim dan warak terkecuali hanya Syadad b. Aus. Atas dasar inilah semua ulama hadits yang enam selalu mengambil hadits-hadits yang bersumber dari beliau. Salah satunya hadits tentang mahkota istighfar.

Syadad b. Aus selama hidupnya betul-betul tersematkan mahkota istighfar. Sebagaimana yang pernah dijanjikan Rasulullah: “Barangsiapa yang membiasakan membaca istighfar maka kesusahan hidupnya akan ada solusinya, kekhawatirannya akan digantikan dengan kesenangan, dan akan diberikan rejeki tanpa diduga-duga.”

Beliau bukan mengamalkan istighfar biasa melainkan mahkota istighfar. Beliau berhasil memetik amalannya itu dengan diangkat derajatnya dan anak keturunannya. Konon, wali-wali yang lahir di daerah Palestina selalu menyambung silsilahnya kepada Syadad b Aus. Apa kita tak iri dengan kesalehah beliau?